Anda punya trik khusus menghindari binatang yg melintas di jalan raya. Ingat!! binatang bukan “binatang”

———— ——— ——-

http://eryatmodjo. wordpress. com/2008/ 04/05/sepeda- motor-dan- anjing/
)

Apa urusannya sepeda motor dengan anjing. Di Jawa, terutama di kota-kota besar, sepertinya tidak ada anjing berkeliaran di jalan raya. Kenapa begitu ya, apa kalau ada anjing liar lalu akan ada yang menyembelih untuk dimakan? Di pintu pagar sih sering terpampang : “Awas ada anjing galak”. Di Manado, lain lagi semboyannya : “Ada anjing awas”. Maksudnya, anjingnya yang harus awas, karena kalau ketahuan liar, bakal ada yang pesta daging anjing gratis. :) .

Di Sorong, seperti halnya di Papua pada umumnya, anjing - dan juga babi - dipelihara dengan di umbar. Akibatnya kita bisa menjumpai anjing dan babi berkeliaran di jalan raya. Umumnya orang berasumsi bahwa hewan itu ada yang empunya, sehingga, meskipun banyak yang doyan makan daging anjing dan babi, hewan itu tidak dibunuh. Bisa dikejar-kejar yang empunya anjing atau babi kalau kita nekad mencurinya. Agak berbeda dengan ayam, yang selalu jadi sasaran pencurian, baik masih di kandang, apalagi kalau berkeliaran di ranah umum.. :) . Ada juga berita pencurian anjing untuk dijadikan RW ( bukan Rukun Warga, ini istilah untuk masakan daging anjing) atau dikenal juga sebagai tinoransak (yang ini istilah Manado), tetapi kejadiannya biasanya pada malam hari. Babi biasanya berkeliaran untuk mencari makan, sedangkan anjing biasanya banyak berkeliaran pada musim kawin. Di luar itu anjing biasanya nongkrong di rumah majikannya.

Sampai di sini, apa urusan sepeda motor dan anjing? Bersepeda motor sejak SD, saya dan juga hampir semua teman yang mengendarai sepeda motor, punya pengalaman buruk dengan anjing yang berkeliaran di jalan raya. Tingkah anjing di jalan raya tidak bisa diramalkan. Seringkali, seekor anjing di jalan raya, yang tampaknya akan berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba saja menyeberang jalan. Kelakuan lainnya, seekor anjing yang sudah menyeberang separuh jalan, tiba-tiba berbalik arah ke tempat semula. Celakanya kalau anjing itu berubah arah persis ketika sepeda motor yang kita kendarai tepa berada di sekitarnya, lalu si anjing menabrak roda depan sepeda motor. Bisa dipastikan sepeda motor akan berguling. Pengalaman buruk lainnya adalah dikejar segerombolan anjing di jalan di depan rumah pemiliknya, yang bisa menyebabkan sepeda motor menabrak salah satu atau beberapa anjing, yang mengakibatkan sepeda motor jatuh dan melukai pengendaranya. Banyak kejadian kecelakaan sepeda motor karena menabrak anjing. Saya lupa berapa kali, tetapi rasanya mengalami lebih dari satu kali. Karena itu sampai sekarang saya selalu meningkatkan kewaspadaan jika melihat seekor anjing di jalan raya, mengantisipasi kalau tiba-tiba sang anjing menyeberang. Kalau berpapasan dengan anjing yang sedang menyeberang, saya pilih untuk memperlambat sepeda motor, sampai si anjing benar-benar sudah menyeberang, dan tetap waspada 1 kalau-kalau tiba-tiba si anjing tiba-tiba menyeberang balik.

Saya juga punya pengalaman mendebarkan dengan babi, ketika bersepeda motor. Selepas tidur siang di rumah Heri CU, dengan badan segar saya pulang, seperti biasa dengan kecepatan tinggi. Ketika sampai di RRI, saya lihat di depan Bank Exim (Bank Mandiri sekarang), seekor babi beserta beberapa ekor anaknya, akan menyeberang jalan dari arah kanan (perumahan Pertamina). Dalam benak saya, berbeda dengan anjing yang tidak bisa diprediksi, babi - konon kata orang adalah hewan yang tidak mudah berbalik arah. Perkiraan saya, dengan kecepatan saat itu, saya akan menabrak perut babi yang gendut itu, yang bisa menyebabkan saya terpental. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, kalau saya menghentikan sepeda motor dengan tiba-tiba, bisa-bisa malah kehilangan kestabilan karena baru saja membelok, dan saya bisa jatuh atau menabrak kendaraan lain di jalur berseberangan. Akhirnya, saya putuskan memacu Honda GL saya lebih kencang, dengan perkiraan mendahului si babi sebelum menyeberang, atau menabrak kepalanya. Akhirnya memang saya menabrak kepala sang babi yang kemudian ternguik-nguik, mengejutkan orang-orang yang sedang bermain bola volley di lapangan Bank Exim. Alhamdulillah, saya selamat.

Di Jawa, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah, saya justru merasa tidak nyaman dengan para pengendara sepeda motor. Di kota kecil yang sepi seperti di Sorong, saya - dan kebanyakan pengendara sepeda motor lainnya, terbiasa melambatkan atau menghentikan sepeda motor di pertigaan atau perempatan jalan, untuk mengamati situasi sebelum kemudian membelok kanan, atau bahkan membelok kiri. Di Jawa, di tanah yang digembar-gemborkan sebagai berbudaya tinggi, saya dapati hal yang sangat berbeda. Pengendara motor umumnya tidak perduli apapun ketika dia keluar dari gang dan akan berbelok ke kiri. Bayangkan, jika anda mengendarai sepeda motor, apalagi mobil, dan ada sepeda motor keluar gang lalu langsung berbelok kiri persis di depan anda ketika anda mencapai mulut gang. Jika gang atau pertigaan yang akan kita lewati itu tampak dengan jelas, tentu bisa diantisipasi. Tapi, kalau pemandangan ke dalam gang tertutup dengan bangunan, pasti kita kelabakan kalau tiba-tiba muncul sepeda motor di hadapan kita keluar gang lalu langsung membelok. Saya perhatikan, ini merupakan kebiasan sejak kecil, karena saya menemui itu terjadi pada anak-anak pengendara sepeda onthel. Akibatnya, kita sering menemui situasi yang tidak bisa diprediksi mengenai sepeda motor ketika akan melewati suatu pertigaan di suatu jalan yang lurus.

Berbekal pengalaman dengan anjing yang tidak bisa diprediksi perilakunya, saya mengandaikan para pengendara sepeda motor di Jawa bak -maaf - anjing, yang sama-sama cuek terhadap pengguna jalan raya lainnya. Saya mengambil sikap begitu semata-mata demi meningkatkan kewaspadaan saya agar tidak mencelakai mereka maupun saya sendiri.

Ada pengalaman buruk sopir dari ipar saya di Kudus. Di suatu jalan lurus di kota Kudus, supir ipar saya dikagetkan oleh sepeda motor yang tiba-tiba muncul dari gang lalu langsung berbelok ke arah kiri searah dengan mobilnya. Menghindari tabrakan, sang sopir menginjak pedal rem dengan mendadak sehingga timbul bunyi mencicit di roda mobil. Mendengar bunyi mencicit, pengendara sepeda motor yang memang tidak memperdulikan situasi lalu lintas, kaget sehingga sempat oleng tetapi tidak sempat celaka. Bukannya merasa bersalah, si pengendara sepeda motor malah terkesan marah. Esoknya, kaca belakang mobil dilempar seseorang yang menurut supir ipar saya itu adalah sang pengendara sepeda motor yang marah karena dikejutkannya. Ahhh, di mana sih yang namanya budaya Jawa tu.

———— ——— ——-


<Fred the Red B 6123 KMJ>
KHCC 011 <> F.S.R.J
http://www.jalanray a.net/
http://gueandry. blogspot. com/
http://redd. dagdigdug. com/